Profil singkat Abdurrohim Harahap
Tokoh Pendidikan Al-Qur’an dan Pembaharu Integrasi Keilmuan Islam
Abdurrohim Harahap merupakan tokoh pendidikan Islam, penulis, dosen, dan pengembang keilmuan Al-Qur’an yang dikenal melalui berbagai gagasan inovatif dalam pembelajaran Al-Qur’an serta pengembangan paradigma integrasi ilmu berbasis nilai-nilai Qurani. Pemikirannya lahir dari perpaduan antara pengalaman akademik, aktivitas dakwah, serta kegelisahan intelektual terhadap tantangan pendidikan Islam modern.
Dalam perjalanan intelektualnya, ia menaruh perhatian besar pada pengembangan metode pendidikan Al-Qur’an yang efektif, menyenangkan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman. Dari pemikiran tersebut lahirlah tiga pendekatan utama yang menjadi fondasi pengembangan keilmuan Al-Qur’an yang ia gagas.
Tiga Pendekatan Pembaharuan Pendidikan Al-Qur’an Abdurrohim harahap
1. Metode IQRA’ al-Mahera
Fun Learning dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an
Metode IQRA’ al-Mahera merupakan metode cepat membaca Al-Qur’an yang dikembangkan dengan pendekatan fun learning. Metode ini dirancang agar proses belajar membaca Al-Qur’an menjadi lebih mudah, sistematis, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi peserta didik dari berbagai tingkatan usia.
Melalui pendekatan ini, pembelajaran Al-Qur’an tidak lagi dipandang sebagai proses yang kaku dan monoton, tetapi menjadi aktivitas edukatif yang membangun minat, semangat, dan kedekatan peserta didik dengan Al-Qur’an sejak dini.
2. Metode Al-Masniari
Konsep 3M: Menghafal, Menulis, dan Memahami Al-Qur’an
Sebagai pengembangan lanjutan, ia juga merumuskan metode Al-Masniari yang dikenal dengan konsep 3M, yaitu:
Menghafal Al-Qur’an
Menulis Al-Qur’an
Memahami Al-Qur’an
Ketiga unsur tersebut dipadukan dalam satu sistem pembelajaran terpadu sehingga peserta didik tidak hanya mampu membaca dan menghafal, tetapi juga memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih mendalam.
Metode IQRA’ al-Mahera dan Al-Masniari telah digunakan secara luas di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia hingga Malaysia, baik pada sekolah umum, sekolah Islam, pesantren, rumah tahfiz, maupun masyarakat umum. Hingga saat ini, lebih dari 10.000 eksemplar perangkat dan buku pembelajaran dari kedua metode tersebut telah digunakan oleh khalayak luas.
3. Sains Qurani dan Integrasi Holistik
Paradigma Baru Integrasi Al-Qur’an dan Sains Modern
Pemikiran terbesar dan yang menjadi fokus utama pembaharuan intelektualnya adalah konsep Sains Qurani dan Integrasi Holistik. Gagasan ini lahir dari penelitian dan perenungan panjang selama bertahun-tahun mengenai hubungan antara Al-Qur’an dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Pemikirannya dituangkan dalam karya monumental berjudul:
Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Sains Modern; Sains Qurani dan Integrasi Holistik
Dalam konsep tersebut, ia mengkritik paradigma integrasi ilmu yang selama ini sering dipahami sekadar “mencocok-cocokkan” ayat Al-Qur’an dengan temuan sains modern. Menurutnya, pendekatan tersebut belum mampu membangun fondasi epistemologi ilmu yang utuh dan berkelanjutan.
Sebagai alternatif, ia menawarkan konsep Integrasi Holistik, yaitu paradigma keilmuan yang menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai legitimasi terhadap sains, tetapi sebagai dasar dalam membangun cara pandang ilmiah, arah pengembangan ilmu pengetahuan, etika penelitian, serta pembangunan peradaban manusia.
Konsep ini kemudian mulai digunakan dan dikembangkan di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia, khususnya perguruan tinggi Islam negeri yang bertransformasi dari IAIN menjadi UIN.
Pendiri Masniari Qur’an Center Indonesia
Selain aktif sebagai akademisi dan penulis, Masniari Qur'an Center Indonesia juga dikenal sebagai lembaga yang didirikan oleh Abdurrohim Harahap sebagai pusat pengembangan metode dan konsep pembelajaran Al-Qur’an yang telah ia rumuskan.
Lembaga ini menjadi wadah pengembangan pendidikan Al-Qur’an berbasis metode IQRA’ al-Mahera, Al-Masniari, serta penguatan konsep pembelajaran Al-Qur’an yang integratif dan aplikatif. Saat ini, jaringan pembelajaran dan pembinaan yang dikembangkan melalui lembaga tersebut telah tersebar di beberapa wilayah, khususnya di Kota Medan dan sekitarnya.
Melalui lembaga ini, ia terus aktif melakukan pembinaan guru Al-Qur’an, pelatihan metode pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta pendampingan pendidikan Qurani bagi masyarakat luas.
Aktivitas Akademik dan Dakwah
Selain menjalankan aktivitas sebagai dosen, Abdurrohim Harahap juga aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, organisasi keislaman, pelatihan pendidikan, seminar, dan pembinaan masyarakat. Ia sering menjadi narasumber dalam seminar pendidikan Islam, pelatihan guru Al-Qur’an, kajian integrasi ilmu, serta pengembangan metode pembelajaran Al-Qur’an di berbagai lembaga pendidikan dan forum keilmuan.
Keterlibatannya dalam dunia akademik dan dakwah menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada aspek teoritis, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi pengembangan umat dan peradaban.
Karya dan Kontribusi Intelektual
Sebagai penulis dan pemikir pendidikan Islam, Abdurrohim Harahap aktif menghasilkan berbagai karya dalam bidang pendidikan Al-Qur’an, integrasi ilmu, kepemimpinan, motivasi Qurani, dan transformasi pendidikan Islam.
Beberapa karya dan gagasannya antara lain:
Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Sains Modern; Sains Qurani dan Integrasi Holistik
Jalan Terjal: Transformasi IAIN Menjadi UIN; Harapan Baru atau Sekadar Pergantian Nama?
Mencari Hidayah Tuhan — Penerbit Wade Group
Mengungkap Motivasi Melalui Al-Qur’an — Penerbit Wade Group
Sofyan Raz: Dari Kerani Menjadi Dirut dan Tokoh Pendidikan — Penerbit Medan Kreasi
Metode IQRA’ al-Mahera
Metode Al-Masniari (3M)
Buku-buku doa dan pembinaan ibadah
Kajian kepemimpinan pendidikan Islam
Pengembangan pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an
Visi Pemikiran
Pemikiran Abdurrohim Harahap menekankan bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan individu yang religius, tetapi juga harus mampu membangun generasi yang berilmu, berkarakter, berintegritas, dan mampu menghadapi tantangan peradaban modern tanpa kehilangan nilai-nilai Qurani.
Baginya, Al-Qur’an bukan hanya kitab spiritual, tetapi juga sumber peradaban yang harus menjadi fondasi dalam membangun ilmu pengetahuan, pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan umat manusia.

Komentar
Posting Komentar